NAMA MAKANAN OLAHAN BUAH PISANG: STUDI ETNOSEMANTIS

Dian Mahendra, Fatimah Azzahra, Eka Nur Ummu Khasanah

Abstract


The study aims to identify the cultural aspects inside the names of banana processed foods through an ethnosemantic approach. The discussed research includes the forms of linguistic units used as the names, the basis for naming, the modernization of traditional food names, and the classification of folk foods. Presented data were obtained through the observation method and the literature studies. The data were analyzed in a qualitative and quantitative methodology. Qualitatively, the data were analyzed by distributional method with immediate constituent technique. The quantitative analysis method was used to figure out the percentage of the use of the essential food naming in the names of bananas processed foods, the number of the traditional name food development becoming modern food, and the number of food name filling in the categories of the folk food system classification. The results showed two forms of food names, namely words and phrases. The basis for naming food is divided into eleven categories, such as the naming based on the basic ingredients, the types of essential elements, the shapes, the processing methods, the additional ingredients, the characters, the brand, the size, the taste, the manufacturer's name, and the place name. The terms of these foods have been modernization, and some are not. The names of the traditional foods such as “nagasari”, “pisang rebus”, and “tape pisang” have not undergone modernization. Meanwhile, traditional foods are undergoing modernization, such as “pisang goreng” has been developing into 24 variants, “pisang bakar” into three variants, “bongko pisang” into three variants, “kolak pisang” into three variants, “sale pisang” into four variants, “ledre pisang” into five variants, “rambak pisang” into three variants, and “keripik pisang” into six variants. In addition, the name of banana processed food is also found in a new modified form. Regarding the classification of folk food, the names of the banana processed foods are classified into five categories: the unique beginner (the type of the food), the food form (the form of the food), the generic, the specific, and the specific the varietal.

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek budaya di balik nama-nama makanan olahan buah pisang melalui pendekatan etnosemantis. Masalah yang dibahas meliputi bentuk-bentuk satuan kebahasaan yang digunakan sebagai nama, dasar penamaan, modernisasi nama makanan tradisional, dan klasifikasi folk makanan. Data yang disajikan diperoleh melalui metode observasi dan studi pustaka. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, data dianalisis dengan metode agih teknik bagi unsur langsung. Adapun analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui persentase penggunaan dasar penamaan makanan dalam nama-nama makanan olahan pisang, jumlah perkembangan nama makanan tradisional yang menjadi makanan modern, dan jumlah nama makanan yang mengisi kategori-kategori dalam sistem klasifikasi folk makanan tersebut. Hasil analisis menunjukkan dua bentuk nama makanan olahan pisang, yakni kata dan frasa. Dasar penamaannya dibedakan menjadi sebelas, yakni penamaan berdasarkan bahan pokok, jenis bahan pokok, bentuk, cara pengolahan, bahan tambahan, sifat, merek, ukuran, rasa, nama pembuat, dan nama tempat. Nama-nama makanan tersebut ada yang mengalami modernisasi dan ada yang tidak.  Nama makanan tradisional nagasari, pisang rebus, dan tape pisang tidak mengalami modernisasi. Sementara itu, makanan tradisional pisang goreng berkembang menjadi 24 varian, pisang bakar menjadi tiga varian, bongko pisang menjadi tiga varian, kolak pisang menjadi tiga varian, sale pisang menjadi empat varian, ledre pisang menjadi lima varian, rambak pisang menjadi tiga varian, dan keripik pisang menjadi enam varian. Selain itu, nama makanan olahan pisang juga ditemukan dalam bentuk modifikasi baru. Mengenai klasifikasi folk makanan, nama makanan olahan pisang dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu unique beginner (jenis makanan), food form (bentuk makanan), generik, spesifik, dan varietal.


Keywords


food names; banana processed food; folk nomenclature system; folk classification; ethnosemantics; nama makanan; olahan buah pisang; sistem tata nama rakyat; klasifikasi folk makanan; etnosemantis

Full Text:

PDF

References


Amiruddin, Moh, Moh Rozek, dan Sulistiyanto Sulistiyanto. 2019. “‘Kepo Mbah Kupis’ Kripik Olahan dari Limbah Kulit Pisang Camilan Beraneka Rasa.” Jurnal Abdimas Berdaya: Jurnal Pembelajaran, Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat 2(02):12–18. doi: 10.30736/jab.v2i02.2.

Ba’dulu, Abdul Muis, dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka Cipta.

Baehaqie, Imam. 2017. Etnolinguistik: Telaah Teoritis dan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Busri, Hasan, dan Moh. Badrih. 2018. Linguistik Indonesia: Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang: Madani Media.

Chaer, Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.

Dörnyei, Zoltán. 2007. Research Methods in Applied Linguistics: Quantitative, Qualitative, and Mixed Methodologies. New York: Oxford University Press.

Eglin, Peter. 1980. Talk And Taxonomy: A Methodological Comparison of Ethnosemantics and Ethnomethodology with Reference to Terms for Canadian Doctors. Amsterdam: Johns Benjamins Publishing Company. https://doi.org/10.1075/pb.i.8

Fransiska, Silvia, Reniwati Reniwati, dan Lindawati Lindawati. 2019. “Penamaan Makanan Berbahan Ubi di Minangkabau.” Jurnal Elektronik Wacana Etnik 8(1):23–31. doi: 10.25077/we.v8.i1.133.

Gurning, Riris Nadia Syafrilia, Sakral Hasby Puarada, dan Misril Fuadi. 2021. “Pemanfaatan Limbah Pisang Menjadi Selai Pisang Sebagai Peningkatan Nilai Guna Pisang.” E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 12(1):106–11. https://doi.org/10.26877/e-dimas.v12i1.6395

Hadiyaniyah, Yani Nurfitri. 2016. “Leksikon Makanan Tradisional Sunda di Kabupaten Kuningan (Kajian Etnolinguistik).” Lokabasa 7(1):94–102. https://doi.org/10.17509/jlb.v7i1.3425

Huai, Khasbagan Hu-Yin, dan Sheng-Ji Pei. 2000. “Wild plants in the diet of Arhorchin Mongol herdsmen in inner Mongolia.” Economic botany 54(4):528–36. https://doi.org/10.1007/BF02866550

Kalle, Raivo, dan Renata Sõukand. 2021. “The name to remember: Flexibility and contextuality of preliterate folk plant categorization from the 1830s, in Pernau, Livonia, historical region on the eastern coast of the Baltic Sea.” Journal of Ethnopharmacology 264:113254. https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.113254

Katamba, Francis. 1993. Morphology. New York: St. Martin’s Press. https://doi.org/10.1007/978-1-349-22851-5

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Carasvatibooks.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Edisi Ke-4. Jakarta: Gramedia.

Loko, Laura Estelle Yêyinou, Joelle Toffa, Arlette Adjatin, Ahouélété Joel Akpo, Azize Orobiyi, dan Alexandre Dansi. 2018. “Folk taxonomy and traditional uses of common bean (Phaseolus vulgaris L.) landraces by the sociolinguistic groups in the central region of the Republic of Benin.” Journal of ethnobiology and ethnomedicine 14(1):1–15. https://doi.org/10.1186/s13002-018-0251-6

Mahsun, MS. 2014. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Moeliono, Anton M., Hans Lapoliwa, Hasan Alwi, Sry Satrya Tjatur Wisnu Sasangka, dan Sugiyono. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ke-6. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Muhammad. 2011. Paradigma Kualitatif Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Liebe Book Press.

Mulyadi, Jendri. 2019. “Penamaan Tempat Usaha dan Menu Kuliner Spesifik Mi Pada Fitur GOO-FOOD dalam Aplikasi GO-JEK Area Padang: Kajian Semantik.” Journal of RESIDU 3(18):50–63.

Munjidah, Afifatul. 2019. “Nama-Nama Jajanan Khas Arab.” Deskripsi Bahasa 2(2):182–89. https://doi.org/10.22146/db.v2i2.359

Muslich, Masnur. 2014. Tata Bentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nuari, Pramita Fara. 2020. “Penamaan Menu Makanan di Bali.” BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 5(1):73–90. https://doi.org/10.32528/bb.v5i1.3008

Nugraha, Danang Satria. 2019. “The lexicons of animal classification in Javanese: a cognitive semantics approach.” International Journal of Humanity Studies (IJHS) 2(2):186–95. doi: 10.24071/ijhs.v2i2.1799.

Phaka, Fortunate M., Edward C. Netherlands, Donnavan J. D. Kruger, dan Louis H. Du Preez. 2019. “Folk taxonomy and indigenous names for frogs in Zululand, South Africa.” Journal of ethnobiology and ethnomedicine 15(1):1–8. https://doi.org/10.1186/s13002-019-0294-3

Putri, T. K., D. Veronika, Ade Ismail, Agung Karuniawan, Yudithia Maxiselly, Aep Wawan Irwan, dan Wawan Sutari. 2015. “Pemanfaatan jenis-jenis pisang (banana dan plantain) lokal Jawa Barat berbasis produk sale dan tepung.” Kultivasi 14(2). https://doi.org/10.24198/kultivasi.v14i2.12074

Qurniati, Rommy, Duryat Duryat, Hendra Prasetya, dan Ferli Hartati. 2020. “Olahan Pisang sebagai Penunjang Ekonomi Masyarakat di Sekitar Gunung Rajabasa Lampung.” J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) 4(2):117–24. https://doi.org/10.30734/j-abdipamas.v4i2.1217

Ramlan, M. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono.

Sadapotto, Andi, dan Hasan Hasan. 2020. “Olahan Pisang Sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Jual Pisang dan Pendapatan Masyarakat.” Maspul Journal of Community Empowerment 1(1):88–100.

Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Suhandano, Suhandano. 2000. “Klasifikasi Folk Biologi dalam Bahasa Jawa sebuah Pengamatan Awal.” Humaniora 12(2):225–30. doi: 10.22146/jh.694.

Suhandano, Suhandano. 2007. “Kategori Tumbuh-tumbuhan Wit dan Suket dalam Bahasa Jawa.” Humaniora 19(1):89–97. doi: 10.22146/jh.895.

Sunandar, Asep, Raden Bambang Sumarsono, Djum Djum Noor Benty, dan Nunung Nurjanah. 2017. “Aneka Olahan Pisang Sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Jual Pisang Dan Pendapatan Masyarakat.” Abdimas Pedagogi: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat 1(1):8–15. doi: 10.17977/um050v1i1p%25p.

Tokuoka, Yoshinori, Fukuhiro Yamasaki, Kenichiro Kimura, Kiyokazu Hashigoe, dan Mitsunori Oka. 2019. “Tracing chronological shifts in farmland demarcation trees in southwestern Japan: implications from species distribution patterns, folk nomenclature, and multiple usages.” Journal of ethnobiology and ethnomedicine 15(1):1–10. https://doi.org/10.1186/s13002-019-0301-8

Turpin, Myfany, dan Aung Si. 2017. “Edible insect larvae in Kaytetye: Their nomenclature and significance.” Journal of Ethnobiology 37(1):120–40. https://doi.org/10.2993/0278-0771-37.1.120

Ulicsni, Viktor, Ingvar Svanberg, dan Zsolt Molnár. 2016. “Folk knowledge of invertebrates in Central Europe-folk taxonomy, nomenclature, medicinal and other uses, folklore, and nature conservation.” Journal of ethnobiology and ethnomedicine 12(1):1–40. https://doi.org/10.1186/s13002-016-0118-7

Wang, Jing, Barnabas C. Seyler, Tamara Ticktin, Yonggang Zeng, dan Kede Ayu. 2020. “An ethnobotanical survey of wild edible plants used by the Yi people of Liangshan Prefecture, Sichuan Province, China.” Journal of ethnobiology and ethnomedicine 16(1):1–27. https://doi.org/10.1186/s13002-019-0349-5

Zaim, M. 2015. “Pergeseran Sistem Pembentukan Kata Bahasa Indonesia: Kajian Akronim, Blending, dan Kliping.” Linguistik Indonesia 33(2):173–92. doi: 10.26499/li.v33i2.36.




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i2.853

Article Metrics

Abstract view : 163 times
PDF - 122 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by