MODEL KEPENGAYOMAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X SAAT PANDEMI MELALUI TUTURAN “TIDHA-TIDHA” DALAM SAPA ARUH

Marcelinus Justian Priambodo

Abstract


This research aims to describeconcept from 'tidha-tidha’ and analyze the affect of the concept of 'tidha-tidha' made by Sri Sultan Hamengku Buwono X  with the conceptual metaphor of the coronavirus in the society of Yogyakarta. Data in this research is internal because it is only based on the reading of Serat Kalatidha and the transcript of Sri Sultan Hamengku Buwono X's speech. This research method uses the theory ofconceptual errors in cognitive linguistic. Sri Sultan Hamengku Buwono X interprets ‘tidha-tidha’ as contemplation with ourselves, others, and God. This new disaster has made people aware of the importanceof health as a form of gratitude that must be attempted. The results reveal that perspective and frame affect the meaning of 'tidha-tidha’ made by Sri Sultan Hamengku Buwono X. The creation of this meaning has three functions consisting representative, directive, and declaration to change the conceptual metaphor of society. In his role as governor, Sri Hamengku Buwono X must change the way og communication as the leadership model and at the same time to respond that new disaster. The leadership model can be seen from the directions and instructions in the speech that are easy to understand through the intentional conceptual errors.


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ‘tidha-tidha’ dan menganalisis pengaruh makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan metafora konseptual pandemi corona masyarakat DIY. Data penelitian bersifat data internal karena hanya berdasarkan pembacaan Serat Kalatidha dan hasil transkrip pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang menggunakan teori erata konseptual linguistik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif dan frame dan memengaruhi pembentukan makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sri Sultan Hamengku Buwono X memaknai ‘tidha-tidha’ sebagai kontemplasi dengan diri sendiri, sesama, dan Sang Pencipta.Bencana baru ini menyadarkan manusia pentingnya kesehatan sebagai rasa syukur yang harus diusahakan. Penciptaan makna ini memiliki tiga fungsi yaitu representatif, direktif, dan deklarasi dalam upaya mengubah metafora konseptual masyarakat. Dalam perannya sebagai gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X harus mengubah cara komunikasisebagai bentuk pengayoman sekaligus menyikapi keadaan baru tersebut. Model pengayoman terlihat dari arahan dan petunjuk dalam pidato yang mudah dipahami melalui erata konseptual kesengajaan.

 


Keywords


meaning; intentional conceptual errors; leadership model; makna; erata konseptual; model pengayoman

Full Text:

PDF

References


Arditama, Erisandi. 2013. “Mereformasi Birokrasi dari Perspektif Sosio-Kultural: Inspirasi dari Kota Yogyakarta”. Jurnal Sosial Politik, 17(1), 85–100.

Arimi, Sailal. 2015. Linguistik Kognitif: Sebuah Pengantar. A.Com Press.

Dewi, Kurniawati Hastuti. 2017. “Pengangkatan Putri Mahkota Dan Indikasi Pergeseran Konsep Kuasa Jawa: Analisis Pendahuluan”. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 19(1), 59–76. https://doi.org/10.14203/jmb.v19i1.398

Hadi, Sumasno. 2011. “Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana Tentang Nilai, Manusia, dan Kebudayaan”. Jurnal Filsafat, 21(1), 1–19.

Hatma, Pajar danIndra Jaya. 2012. “Dinamika Pola Pikir Orang Jawa”. Humaniora, Vol. 24, No. 2 Juni 2012: 133-140, 24(2), 133–140. https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1056/885

Hilal, Muhammad. 2019. ”Filsafat Bahasa Biasa Gilbert Ryle dan Relevansinya dengan Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia”. Jurnal Filsafat, 29(2), 206–227. https://doi.org/10.22146/jf.44313

Humas Jogja. 2020. ”Sapa Aruh Sri Sultan Hamengku Buwono X : “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona””. Video Youtube. 23 Maret 2020. https://www.youtube.com/watch?v=ICkE5wjbj-o&ab_channel=HumasJogja

Kirom, Syahrul. 2016. ”Filsafat Ilmu Dan Arah Pengembangan Pancasila: Relevansinya Dalam Mengatasi Persoalan Kebangsaan”. Jurnal Filsafat, 21(2), 99–117. https://doi.org/10.22146/jf.3111

Kistanto, Nurdien Harry. 2016. ”Gaya Hidup Masyarakat Pascamoderen”. Sabda, 11(4), 98–112.

Koentjaraningrat. 2016. Pengantar Ilmu Antropologi. Rhineka Cipta.

Maharani, Septiana Dwiputri. 2012. ”Pandangan Gabriel Marcel Tentang Manusia Dalam Konteks Peristiwa Bencana Alam”. Jurnal Filsafat, 22(2):91–106. https://doi.org/10.22146/jf.12989

Munandar, Aris. 2013. ”Pemakaian Bahasa Jawa dalam Situasi Kontak Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Humaniora, 25(1), 92–102. https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1819

Nasrullah, dan Lalu Sulaiman. 2021. ”Analisis Pengaruh COVID-19 Terhadap Kesehatan Mental Masyarakat di Indonesia”. Jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 20(3), 206–211. https://doi.org/10.24198/focus.v3i1.28123

Nirmala, Deli. 2014. ”Proses Kognitif dalam Ungkapan”. Parole, 4(1), 1–13.

-------------------. 2016. ”Javanese Cultural Words in Local Newspapers in Central Java As a Language Maintenance Model”. Jurnal Humaniora, 27(3), 293–304. https://doi.org/10.22146/jh.v27i3.10589

Noor, Redyanto. 2019. ”Fungsi Sosial-Kultural Sastra: Memajukan Kebudayaan dan Mengembangkan Peradaban”. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 14(2), 206. https://doi.org/10.14710/nusa.14.2.206-216

Raditya, Michael HB. 2016. ”Kontestasi Kekuasaan dan Keteladanan Semu di Indonesia”. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 19(1), 1–15. https://doi.org/10.22146/jsp.10853

Setiyadi, Dwi Bambang Putut.2013. ”Discourse analysis of Serat Kalatidha: Javanese cognition system and local wisdom”. Asian Journal of Social Sciences & Humanities, 2(4), 292–300.

Siswanto, Dwi. 2010. ”Pengaruh Pandangan Hidup Masyarakat Jawa Terhadap Model Kepemimpinan”. Jurnal Filsafat, 20(3), 198–214.

Sofyan, Nur.2014. ”Bahasa Sebagai Simbolisasi Mempertahankan Kekuasaan”. INTERAKSI: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(1), 75–84. https://doi.org/10.14710/interaksi.3.1.75-84

Suharyo. 2018. ”Nasib Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam Pandangan dan Sikap Bahasa Generasi Muda Jawa”. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 13(2), 244–255. https://doi.org/10.14710/nusa.13.2.244-255

Susanto, Tri Atmojo. 1991. ”Kalatidha: Studi Tekstual dalam Rangka Pemahaman Maknanya”. (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. http://digilib.fib.ugm.ac.id/files/view/6e444534d63909090987050d060de6d4.php#/0

Tolo, Emilianus Yakob Sese. 2013. ”Dari Otokrasi Ke Demokrasi: Menyibak Sejarah Dan Survivalitas “Demokrasi Ala Daerah Istimewa Yogyakarta””. Humaniora, 25(3), 270–280.

Ulfa, Nurist Surayya. 2012. ”Konsumsi Sebagai Penanda Kesejahteraan Dan Stratifikasi Sosial (Dalam Bingkai Pemikiran Jean Baudrillard)”. Jurnal Forum, 40(1), 34-41–41.

Wardani, Laksmi Kusuma. 2012. ”Pengaruh Pandangan Sosio-Kultural Sultan Hamengku Buwana IX Terhadap Eksistensi Keraton Yogyakarta”. Jurnal Masyarakat dan Kebudayaan Politik, 25(1), 56–63. http://journal.unair.ac.id/pengaruh-pandangan-sosio-kultural-sultan-hamengkubuwana-ix-terhadap-eksistensi-keraton-yogyakarta-article-4275-media-15-category-8.html




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i2.847

Article Metrics

Abstract view : 356 times
PDF - 90 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by