INNER STRUCTURE AND LOCAL WISDOM IN NYANGAHATN BABURUKNG ORAL TRADITION OF DAYAK KANAYATN

Sesilia Seli

Abstract


Nyangahatn Baburukng is the mantra of the Kanayatn Dayak community that is uttered at the Baburukng ritual as the initial stage of the farming tradition (bahuma). This study was conducted to provide a deeper meaning to the inner structure and local wisdom of the Nyangahatn Baburukng and as a means of inheritance to the next generation. The objective of this study is to analyze the inner structure and forms of local wisdom in Nyangahatn Baburukng. The study is based on theories of local wisdom, mantra, and structure of mantra by using qualitative descriptive methods, objective approaches and sociology of literature. The results of this study indicate that the inner structure of the Nyangahatn Baburukng text includes (1) The theme includes belief in Jubata as a helper and giver of blessings; carefully reading the signs of nature (listening to the sound of the bird/rasi) to determine the type of land suitable for farming (bahuma); offerings as a means to communicate with Jubata, ghosts, demons/devils; and offerings as symbols of gratitude, sacrifice, restoration of relationships, purity, and sincerity.  (2) The tone includes the tone of gratitude, the tone of surrender, the tone of the sacred; pleading tone, friendly tone, and hopeful tone. (3) Feelings include feelings of joy, optimism, cooperation, togetherness, solidarity, and full of blessings. (4) Mantra's mandate includes that humans must be able to establish good communication with Jubata, the spirits of the ancestors, and the devil so that they can coexist and not be disturbed by the power of the devil; the implementation of the Baburukng ritual is a form of obedience to tradition and complete surrender to Jubata; cooperation, togetherness, and high solidarity need to be preserved. The forms of local wisdom in the Nyangahatn Baburukng text include (1) local knowledge; (2) local values; (3) local skills and technology; and (4) elements of local leadership.

Nyangahatn Baburukng adalah mantra komunitas Dayak Kanayatn yang diucapkan pada ritual Baburukng sebagai tahap awal dari tradisi berladangan (bahuma). Kajian ini dilakukan untuk memberikan makna yang lebih mendalam terhadap struktur batin dan  kearifan lokal Nyangahatn Baburukng dan sebagai alat pewarisan kepada generasi penerus. Objektif kajian dalam penelitian ini adalah penganalisisan terhadap struktur batin  dan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam Nyangahatn Baburukng. Kajian didasarkan pada teori-teori kearifan lokal, mantra, dan struktur mantra dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan objektif dan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur batin teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) Tema meliputi keyakinan kepada Jubata sebagai penolong dan pemberi berkat; cermat membaca tanda-tanda alam (mendengarkan bunyi burung/rasi) untuk menentukan jenis lahan yang cocok untuk berladang (bahuma); persembahan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Jubata, hantu, setan/iblis; dan bahan-bahan persembahan sebagai simbol dari rasa syukur, pengorbanan, pemulih hubungan, kesucian, dan keikhlasan. (2) Nada meliputi nada bersyukur, nada penyerahan diri, nada sakral; nada memohon, nada bersahabat, dan nada penuh harapan. (3) Rasa meliputi rasa gembira, optimis, kerjasama, kebersamaan, solider, dan penuh berkat.   (4) Amanat mantra meliputi manusia harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan Jubata, roh para leluhur, dan iblis agar dapat hidup  berdampingan  dan tidak terganggu oleh kuasa iblis; pelaksanaan ritual Baburukng merupakan wujud kepatuhan pada tradisi dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Jubata; kerja sama, kebersamaan,  dan solidaritas yang tinggi perlu terus dilestarikan. Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) pengetahuan lokal; (2) nilai-nilai lokal; (3) keterampilan dan teknologi lokal; dan (4) unsur kepemimpinan lokal.


Keywords


Struktur batin; Kearifan local; Nyangahatn Baburukng; Dayak Kanayatn; Inner structure; Local wisdom; Nyangahatn Baburukng; Dayak Kanayatn

Full Text:

PDF

References


Andalas, E. F. and Sulistyorini. 2017.Sastra Lisan. Malang: Madani.

Avonina, S. 2006. "Apa yang Dimaksud dengan Pengetahu-an Tradisional?", Konvergensi, IX.

Dinata, A. et al. 2014.Rumah Sehat Jubata, Radakng. Jakarta: Lembaga Penerbitan Balitbangkes.

Dokhi, D. 2016. Analisis Kearifan Lokal Ditinjau dari Keragaan Budaya. Jakarta: PDSPK Kemendikbud RI.

Endraswara, S. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress.

Endraswara, S. 2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: CAPS.

Hamidin, M. 2016. "Bentuk, Fungsi, dan Makna Mantra Ritual Upacara KASAMBU Masyarakat Muna di Kecamatan Katobu Kabupaten Muna", Jurnal Bahasa (Bahasa dan Sastra).

Hartata, A. 2010. Mantra Pengasihan (Rahasia Cinta dalam Klenik Jawa). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Hartini and Fusnika. 2019. Tradisi Naik Jurong pada Suku Dayak Mualang di Kabupaten Sekadau. Jember: CV Pustaka Abadi. https://doi.org/10.31932/jpk.v4i2.551

Herlina, H., Kusnita, S. and Hariadi, T. 2021. "Tokoh Mitologi dalam Mantra Nyangahatn Ka’ Saka’ Panen Padi Etnis Dayak di Kalimantan Barat". Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 3(3). doi: 10.34007/jehss.v3i3.531.

Hutomo, S. S. 1991. Mutiara yang Hilang: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: Hiski Jawa Timur.

Ife, J. 2002. Community Development, Creating Community alternative Vision Analysis and Practice. Australia: Longman.

Istianingrum, R. and Retnowaty, R. 2018. "Tipong Tawar dalam Ritual Pertanian Dayak Paser: Sebuah Bentuk dan Struktur". Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2(1). doi: 10.30651/lf.v2i1.1435.

Kartawinata, A. M. (ed.). 2011. Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Keraf, A. S. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Laelasari and Nuralilah.2008. Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia.

Maknun, J. 2017. "Konsep Sains dan Teknologi pada Masyarakat Tradisional di Provinsi Jawa Barat, Indonesia". Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan, 2(2), p. 127—142.

Maknun, T. 2012. Nelayan Makassar: Kepercayaan, Karakter, Identitas. Makassar: Univeristas Hasanuddin. https://doi.org/10.17509/mimbardik.v2i2.8623

Malihah, E. 2010. “Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni dalam Kehidupan Manusia”. Online http://file.upi.edu/Direktori/DUAL MODES/PLSBT/Modul_5_PLSBT.pdf.

Mariane, I. 2013. Kearifan Lokal Pengelolaan Hukum Adat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Moleong, L. J. 2017. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhrotien, A. 2012. Rekonstruksi Identitas Dayak. Yogyakarta: TICI Publication.

Mustikawati, A. 2020. "Mengungkap Kearifan Lokal Mantra Soyong Masyarakat Paser". Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Available at: https://www.researchgate.net/publication/338593854.

Nesi, A., Rahadi, R. . and Pranowo. 2019. "Nilai-nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Lisan Takanab: Kajian Ekolinguistik". Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio. 11, No.1. 71–90.

Nugraha, F. I. 2015. "Mantra Bandung Bondowoso sebagai Tindak Tutur". Jurnal Ilmiah FONEMA: Jurnal Edukasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Available at: https://doi.org/10.25139/fn.v1i2.1177.

Nurjamilah, A. S. 2015."Mantra Pengasih-an: Telaah Struktur, Konteks, Penutur-an, dan Proses Pewarisannya". Riksa Bahasa.

Nuwa, G. and Yani, A. 2019. "Analisis Struktur Batin Syair Adat Pada Masyaraka Sikka Krowe Dalam Tradisi Poto Wua Ta’a Di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur". Mabasan, 13(1). https://doi.org/10.26499/mab.v13i1.244

P, Fatmawati. 2019. "Pengetahuan Lokal Petani dalam Tradisi Bercocok Tanam Padi oleh Masyarakat Tapango Di Polewali Mandar". Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya, 10(1). https://doi.org/10.36869/wjsb.v10i1.41

Permana, R. C. E. 2010. Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Putra, R. M. . 2013 . "Berladang dan Kearifan Lokal Manusia Dayak". Jurnal Ultima Humaniora, 1(2), 160168, 1,No.2. 160–168.

Ratna, N. K. 2006. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosidi, A. 2011. Kearifan Lokal dalam Perspetif Budaya Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Rosyadi. 2014. "Sistem Pengetahuan Lokal Masyarakat Cidaun–Cianjur Selatan Sebagai Wujud Adaptasi Budaya". Jurnal Patanjala, Volume 6, pp. 431–446. https://doi.org/10.30959/ptj.v6i3.173

Roy, P. 2012. "Folk-Culture in Vedic Literaturs". Indian Streams Research Journal, Vol. 1, p. pp.1-5.

Setiadi, D., & Firdaus, A. 2018. "Teks Mantra Embeung Beurang Seputar Kehamilan dan Kelahiran Bayi di Cidolog Kabupaten Sukabumi". Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya. doi: https://doi.org/10.26740/parama.v1i2.1489.

Setiawan, E. 2019. KBBI - Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring

Sinju, H. B. et al. 1996. Tradisi Peladangan Dayak Kanayatn Binua Kaca’ Kecamatan Menjalin Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Pontianak: IDRD.

Sugiyono, D. 2018. Metode Penelitian Kuatintatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Syamsuddin and Damaianti, V. S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Waluyo, H. J. 1997. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wulandari, W. 2020. "Kearifan Lokal Masyarakat Lereng Merapi dalam Kidung Tradisi Sedhekah Gunung: Kajian Antropolinguistik". Tesis. Universitas Sanata Dharma.

Yelle, R. A. 2003. Explaining Mantras. New York and London: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203483381




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i2.816

Article Metrics

Abstract view : 6 times
PDF - 3 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by