PERBANDINGAN ASPEK LINGKUNGAN PADA CERITA RAKYAT “PEMUDA BERSERULING AJAIB” JERMAN DENGAN “DEWI LIUNG INDUNG BUNGA” KALIMANTAN SELATAN

Muhammad Yusuf Saputro

Abstract


This study aims to determine the comparison of environmental aspects in the German folklore "The man with the Magic Flute" with “Dewi Liung Indung Bunga” folklore from South Borneo/South Kalimantan. The research approach is a qualitative description with comparative literature study data analysis methods as well as with literary ecology theory. This research proves that the folklore of the two countries has similarities and differences from ecological studies. The results of the study as a representation of nature depicting tropical forests in the story from South Kalimantan and in urban areas in the story from Germany. The local wisdom value of the story from Kalimantan illustrates the belief in giving worship and sacrifice to nature, on the other hand, the story from Germany depicts people who like littering. Examining the heroic elements of the story from Kalimantan was represented by a woman named Dewi Liung Indung Bunga who dared to sacrifice herself for nature and in the story from Germany was represented by a male figure with his power clean the city from rat plague. An analysis of the apocalyptic narrative of a story from Kalimantan shows that humans (Datu Beritau) can receive revelations from God and are vigorous with supernatural nuances and stories from Germany with magical powers that emerge from the sound of flutes that can deceive humans and animals. The research shows that the elements of the apocalyptic environment in both folklore have in common the absence of human consciousness to utilize and protect the environment. This shows that a literary work is part of the natural environment (ecology) of the local community.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aspek lingkungan pada cerita rakyat “Pemuda Berseruling Ajaib” Jerman dengan cerita rakyat “Dewi Liung Indung Bunga” dari Kalimantan Selatan. Pendekatan penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dengan metode analisis data kajian sastra banding serta dengan teori ekologi sastra. Penelitian ini membuktikan bahwa cerita rakyat dari kedua negara tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan dari kajian ekologi. Hasil penelitian sebagai beriku representasi alam yang menggambarkan hutan tropis pada cerita dari Kalimantan Selatan dan wilayah kota dalam perbukitan pada cerita dari Jerman. Nilai kearifan lokal cerita dari Kalimantan menggambarkan kepercayaan memberikan sesembahan dan pengorbanan untuk alam dan cerita dari Jerman sebaliknya menggambarkan penduduk yang suka membuang sampah sembarangan. Telaah unsur kepahlawanan cerita dari Kalimantan diwakili oleh perempuan yaitu Dewi Liung Indung Bunga yang berani mengorbankan dirinya untuk alam dan cerita dari Jerman diwakili oleh tokoh laki-laki dengan kekuatannya dapat membersihkan kota dari wabah tikus. Telaah narasi apokaliptik cerita dari Kalimantan menunjukkan bahwa manusia (Datu Beritau) dapat menerima wahyu dari Tuhan dan kental dengan nuansa supranatural dan cerita dari Jerman kekuatan ajaib yang muncul dari suara seruling yang dapat memperdaya manusia dan hewan. Telaah unsur lingkungan apokaliptik dalam kedua cerita rakyat memiliki kesamaan yaitu tidak adanya kesadaran manusia untuk memanfaatkan dan menjaga lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya sastra bagian dari lingkungan alam (ekologi) masyarakat setempat.

Keywords


comparative literature; literary ecology; folklore; Sastra Banding, Ekologi Sastra, Cerita Rakyat

Full Text:

PDF

References


Anggraini, N. 2015. Pergeseran Nilai Budaya Minangkabau dalam Novel Dari Surau ke Gereja Karya Helmidjas Hendra dan Novel Persiden Karya Wisran Hadi (Tinjauan Sastra Banding). Dinamika UMT, I (1), 63–70. https://doi.org/10.31000/dinamika.v1i1.509

Buell, Lawrence. 1995. The Environmental Imagination. Cambridge: Harvard University Press.

Gusal, L. O. 2015. Nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Karya La Ode Sidu. Humanika, 3 (15), 1–18.

Harsono, S. 2008. Ekokritik: Kritik Sastra Berwawasan Lingkungan. Kajian Sastra, 32 (1), 31–50.

Keraf, Sonny A. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Muin, F. 2013. Ekokritisisme: Kajian Ekologi dalam Sastra. Proceedings Literature and Nation Character Building, 23, 295–306.

Rahmawati, H. 2017. Local Wisdom dan Perilaku Ekologis Masyarakat Dayak Benuaq. Jurnal Indigenous, 13 (1), 72–78.

Sukmawan, Sony. 2015. Sastra Lingkungan Sastra Lisan Jawa dalam Prespektif Ekokritik Sastra. Malang: UB Press.

Sukmawan, Sony. 2016. Ekokritik Sastra: Menanggap Sasmita Arcadia. Malang: UB Press.

Sulistijani, E. 2018. Kearifan Lokal dalam Kumpulan Puisi Kidung Cisadane Karya Rini Intama (Kajian Ekokritik Sastra). Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 13(1), 1. https://doi.org/10.14710/nusa.13.1.1-15

Teorey, M., & College, P. 2010. Ecological Discourse in Craig Childs’s The Secret Knowledge of Water. Ecological Discourse in Craig Childs’s The Secret Knowledge of Water, 2(1), 1–18.

Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Widarmanto, Tjahjono. 2018. Ekologi dan Sastra. Dalam: https://www.cendananews.com/2018/03/ekologi-dan-sastra.html (daring) diakses pada 15 Mei 2020.




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i1.529

Article Metrics

Abstract view : 22 times
PDF - 3 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by