www.crovu.co/instagram-takipci-satin-al/
www.crovu.co/instagram-takipci-satin-al/
www.instakib.com
KISAH NABI KHIDIR DALAM SASTRA SULUK: RESEPSI DAN TRANSFORMASI (THE STORY OF PHRPOHET KHIDIR IN SULUK LITERATURE; RECEPTION AND TRANSFORMATION) | Haryatmo | Widyaparwa

KISAH NABI KHIDIR DALAM SASTRA SULUK: RESEPSI DAN TRANSFORMASI (THE STORY OF PHRPOHET KHIDIR IN SULUK LITERATURE; RECEPTION AND TRANSFORMATION)

Sri Haryatmo

Abstract


Penelitian ini mengangkat cerita Nabi Khidir di dalam sastra Jawa, khususnya sastra suluk. Kajian ini bertujuan ingin mengetahui kreatifitas pengarang sastra suluk dalam meresepsi dan mentransformasikan kisah Nabi Khidir di dalam sastra Jawa (suluk). Teori yang digunakan adalah teori resepsi dan transformasi. Dalam teori resepsi dijelaskan bahwa setiap pembaca mempunyai resepsi sendiri-sendiri terhadap karya yang dibacanya. Dalam hal ini pengarang meresepsi kisah Nabi Khidir dalam Alquran (melalui kitab Qishasul Anbiya Kisah para Nabi) lalu menulis kembali (mentransformasikan) ke dalam Serat Suluk Walisana. Hasilnya adalah bahwa tokoh Nabi Musa (dalam Alquran) diganti dengan tokoh Syekh Malaya (dalam sastra suluk), inti ajaran ilmu laduni yang dimiliki oleh Nabi Khidir ditransformasikan dalam inti ajaran kejawen manunggaling kawulaGusti. Kepopuleran Nabi Khidir di Jawa dimanfaatkan untuk melegitimasi inti ajaran manunggaling kawula-Gusti dalam sastra suluk. Oleh karena itu, dalam suluk, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Khidir terhadap Syekh Malaya seluruhnya dapat diterima dengan sempurna.

 

This study raised the story of the Prophet Khidr in Javanese literature, particularly suluk literature. The aim of this study is to find out suluk literary author's creativity in receiving and transforming Javanese suluk of prophet Khidir story. The theory employed in this study is the theory of reception and transformation. In reception theory it is explained that every reader has his/her own reception on the works he/she reads. In this case the author receives story of Prophet Khidr in the Qur'an (through book of Qishasul Anbiya 'Story of the Prophets') and then rewrites (transforms) into Serat Suluk Walisana. The result is the figure of Moses (in the Qur'an) is replaced with the figure of Sheikh Malaya (in suluk literature), teachings core of Laduni knowledge possessed by Prophet Khidr is transformed into the teachings core of kejawen manunggaling-Gusti. The popularity of Prophet Khidr in Java is used to legitimize teachings core of manunggaling-Gusti in suluk literature. Therefore, in suluk, the teachings delivered by Prophet Khidr toward Sheikh Malaya are entirely received perfectly.



Keywords


Nabi Khidir; Nabi Musa; Sunan Kalijaga; suluk; resepsi; transformasi; Prophet Khidr; Moses; Sunan Kalidjaga; suluk; reception; transformation

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v43i2.116

Refbacks

  • There are currently no refbacks.