BAHASA SENSASIONAL DALAM PEMBERITAAN MEDIA (SENSATIONAL LANGUAGE IN MEDIA REPORTING)

Emmy Poentarie

Abstract


Tugas jurnalisme adalah menyampaikan realitas kebenaran kepada masyarakat. Dalam rangka menyampaikan realitas tersebut, jurnalistik membutuhkan bahasa. Agar realitas dapat dipahami dengan baik maka bahasa jurnalistik seyogianya sederhana dan mudah dimengerti. Namun demikian, para jurnalis seringkali menggunakan ragam-bahasa sensasional guna menarik perhatian pembaca. Akibatnya, realitas tidak hanya bias, tapi juga menjadi sensasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk sensasionalisme yang muncul dalam pemberitaan, menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensasionalisme muncul melalui bahasa dramatik, emosionalisme, dan detil bahasa. Ketiganya digunakan untuk menimbulkan berita yang sensasional. Baik di suratkabar Kedaulatan Rakyat maupun Koran Sindo, berita yang mengandung sensasionalisme cukup tinggi. Di suratkabar Kedaulatan Rakyat, sensasionalisme mencapai lebih dari 43%. Sementara itu, di Koran Sindo, berita yang mengandung sensasionalisme bahkan lebih banyak dibandingkan dengan berita yang tidak mengandung sensasionalisme. Di antara bentuk-bentuk sensasionalisme yang ada, emosionalisme menjadi yang paling menonjol.

 

Journalism duty is to convey the reality of the truth to the public. In order to address this reality, journalism requires language. To understand the reality well, language of journalism ought to be simple and easy to understand. However, journalists often use variety of sensational languages ?? to attract reader attention. Consequently, the reality is not only bias, but also be sensational. This study aims to find out forms of sensationalism exposed in the news by using a quantitative approach and content analysis method. The results showed that sensationalism emerged through dramatic language, emotionalism, and language details. All of them are used to generate sensational news. News containing sensationalism both in Kedaulatan Rakyat newspaper and Koran Sindo newspaper is high enough. In the Kedaulatan Rakyat newspaper, sensationalism reached more than 43%. Meanwhile, news sensationalism in the Koran Sindo, in fact, is more than the news that does not contain sensationalism. Among the existing forms of sensationalisms, emotionalism is the most prominent.


Keywords


sensasionalisme; objektivitas; berita; jurnalisme; sensationalism; objectivity; news; journalism

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v43i2.110

Refbacks

  • There are currently no refbacks.